Koh Abun saat menyeduh kopi, kalau beruntung kesana mungkin bisa dilayani langsung oleh beliau. :D

Warung Kopi Koh Abun – Usaha Keluarga 3 Generasi

Koh Abun saat menyeduh kopi, kalau beruntung kesana mungkin bisa dilayani langsung oleh beliau. :D
Koh Abun saat menyeduh kopi, kalau beruntung kesana mungkin bisa dilayani langsung oleh beliau. 😀

Ditengah keramaian jalan Pelabuhan, tampak sebuah warung kecil yang didepannya kadang ramai dengan para pekerja sekitar yang sedang bermain kartu. Warung Kopi Koh Abun, menjadi satu bagian kecil yang menarik diantara sekian banyak cafe yang menjamur di Kota Samarinda dengan suguhan kopi.

Dari depan memang tidak tampak begitu menarik, tanpa papan nama, ditambah dengan beberapa pelanggan yang juga pegawai sekitar yang asik bermain kartu, mungkin menimbulkan stereotip negative. Tapi ada yang menarik dari kedai kopi ini, yaitu kedai kopi ini sudah sudah berjalan hingga tiga generasi.

“ini warung kopinya sudah sejak lama, dulu kakek buka di Sanga-Sanga sekitar tahun 60an” begitu kata Koh Abun memulai obrolan sore itu bersama saya. Memang diantara merebaknya warung kopi modern di Samarinda yang tidak hanya menyuguhkan minuman, tetapi dianggap masyarakat Samarinda sebagai ‘entertaiment’ alias hiburan.

Menurut saya sendiri, budaya nongkrong di warung kopi di Samarinda sendiri mulai ramai sekitar awal 2008an. Saat itu ada yang namanya Djoeragan Kopi, ya dulu warung kopi ini cukup terkenal. Dulu sempat dimenejeri oleh mantan bakal calon pacar saya, tapi entah mengapa warung kopi ini sirna popularitasnya ketika kompetitor lain hadir. Tentu dengan standar pelayanan, tempat, serta tingkat kenyamanan yang berbeda.

Koh Abun merupakan generasi ketiga yang mengurus kedai kopi ini,  “belum tahu nanti yang akan menggantikan atau meneruskan usaha ini” jawab koh Abun santai saat saya menanyakan perihal regenerasi kedai kopi yang diurus secara keluarga.

Mengambil kuliah di Surabaya, kemudian sempat kerja sebagai sales di Semarang dengan jangkauan kerja Jawa Tengah dan Yogyakarta memutuskan kembali ke Samarinda tahun 1999 untuk melanjutkan usaha yang sebelumnya dijalankan oleh Ayah beliau.

Ketika saya menanyakan sehari ada berapa porsi, beliau tidak pernah menghitung pasti ada berapa cangkir yang disuguhkan kepelanggan. “kira-kira lebih dari 50 cangkir lah tiap hari ada, kalau detilnya nggak pernah ngitung” jawab Pria yang memiliki nama asli Iwan Rustan ini.

Dulu sebelum di jalan Dermaga, warung kopi ini berada di PHG (nama lama Citra Niaga, letaknya tidak jauh dari Toko Murah. Mungkin kalau teman-teman ingin mencoba bagaimana kopi di warung kopi ini sejak pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore. Tidak hanya kopi hitam ataupun kopi susu, bisa pesan teh tarik, ataupun makanan lain disini.

Menariknya disini proses penggorengan biji kopi (roasting) dilakukan disini, Koh Abun hanya membeli biji kopi yang sudah bersih dari Malang. Hal ini tentu dilakukan agar menjaga cita rasa kopi tersebut. Karena beliau sendiri menggoreng biji kopi kalau stok roasted sudah menipis. Sayangnya saat itu sedang tidak menggoreng kopi, jadi tidak bisa melihat proses penggorengan kopi langsung dari Koh Abun.

Jika dirasa antara Robusta beli di warung kopi modern di Samarinda, dengan diwarung kopi Koh Abun sepertinya tidak jauh berbeda. Asalkan sama-sama Robusta biasa, bukan Robusta luwak lho ya. Resep mengenai kopi diwarung Kopi Koh Abun ini merupakan resep turun temurun yang dulu didapat dari kakek beliau. Meninggalkan pekerjaan di jawa, kemudian melanjutkan usaha keluarga menjadi pilihan beliau. Pastinya jangan lupa mampir ke warung kopi ini ya, tentunya untuk di Samarinda menikmiat Robusta disini tidak merogoh kocek terlalu dalam.

2 thoughts on “Warung Kopi Koh Abun – Usaha Keluarga 3 Generasi”

  1. Aih, belum pernah ke sana, termasuk Samarinda
    Tapi kalo ngeliat kopi disaring dengan cara demikian seperti pada foto, duh pengeeen

  2. Aihhh… kira-kira sama lah, walaupun cuma satu jenis kopi (robusta) tapi ini kedai kopi kecil yang pakai kopi beneran. 😀

Tinggalin komentar ya