Photo Project Behind The Glasses. for more photos check my flickr. https://flic.kr/s/aHsjUFQeZF

Mengapa saya memilih Prabowo Subianto?

Kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai hal yang mungkin cukup usang beberapa minggu. Karena saya tidak berusaha untuk mempengaruhi pembaca, atau para swingvoters ketika Pemilihan Presiden 11 Juli 2014 lalu. Saya ingin sedikit berbagi mengenai pandangan saya, termasuk hasil berbincang dengan sedikit teman mengenai pilihannya pada Pilpres kemarin.

Mungkin kali ini saya tidak mungkin di bully oleh mas Arman Dhani yang katanya masih galau hatinya sama seorang gadis, walaupun mas Dhani sudah tidak galau untuk urusan akademis-nya yang sempat molor (sama kayak saya lho Dhan 😛 ). Minimal semoga nggak kayak nasib Zarry Hendrik yang memberikan alasan mengapa dia memilih Prabowo setelah itu jadi bahan bullying social media. Kemudian memaksa Zarry Hendrik menghapus postingannya, kemudian sempat menghapus akun twitter-nya.

Menyampaikan apa yang dipikirkan, kemudian mengutarakan pendapat dalam blog, twitter atau social media merupakan hak setiap warga negara. Dan dilindungi Undang-Undang, sebenarnya bullying Zarry Hendrik kemarin tidak bisa dibenarkan dan tidak bisa disalahkan. Mungkin mas Arman Dhani terbawa suasana dan lagi selo. Sama kayak @soundofyogi yang nge-blame twitternya dedek2 JKT48 baru-baru saja, saya rasa mas Yogi tidak bisa menerima pendapat orang lain soal “Masih enak Jamannya Soeharto”.

Kembali ke topik pembicaraan, jika saya merunut postingan blog mbak Dian Paramita serta masnya Herman Saksono. Menceritakan analisa dan kronologis kejadian Mei 1998. Pertama saya akui, kalian semua mencerahkan bagi para netters yang malas untuk menggali informasi melalui internet. Walaupun cukup tendensius, dan mengarah ke penghakiman salah satu tokoh yang bernama Prabowo. Saya paham itu, dan saya maklumi karena kalian dan saya sama-sama berbasis data yang tersebar di internet. Kalian mendapat kesaksian dari sumber omongan? atau tatap muka dengan sumber terpercaya dengan berbincang? saya kira belum. 😛

Kehidupan saya memang bukan berlatar belakang militer atau biasa disebut anak kolong. Tetapi saya dari SD sampai SMA, saya aktif dalam kegiatan entah namanya tukang kibarin bendera, pecinta alam, pramuka bahkan ikatan remaja mushola sekolah.  Saya tak tahu bagaimana rasanya jadi anak kolong, tetapi saya memiliki dua sahabat yang anak kolong dan terkait langsung oleh Prabowo Subianto. Bapak dua sahabat saya itu adalah rekan penugasan Prabowo saat Fretilin di Timor Timur dan Mapenduma. Inilah salah satu bagian kecil mengapa saya memilih Prabowo kemarin.

Mengenai Kasus Kerusuhan Mei 1998
Ketika berbicara kasus Mei 1998, sebenarnya saya masih kecil. Saat itu saya masih SD, saya tidak begitu paham. Walaupun akhirnya saat SMP saya membeli sebuah dokumenter demonstrasi 1998, saat ini sudah diunggah ke youtube. Dulu yang saya pikirkan hanya sungguh miris aparat menembaki rakyatnya sendiri, sungguh mengerikan kejadian disana, tanpa saya harus berpikir lebih jauh. Waktu SMP sampai SMA saya nggak terlalu tertarik dengan hal itu, walaupun mengganjal ada apa kok begitu?

Prabowo sebagai dalang kerusuhan yang dianggap sistematis pada 1998? dan Prabowo yang bertanggung jawab atas 13 orang hilang sebagai kejahatan HAM yang paling keji (versi KOMNAS HAM, dan beberapa LSM HAM lain). Melihat dari laporan Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk untuk menginvestigasi kasus 1998, saya menyimpulkan bahwa Prabowo tidak dianggap sebagai yang paling bertanggung jawab. Tetapi hasil dari TPGF mengarah bahwa yang bertanggung jawab adalah Prabowo. Perhatikan antara ‘mengarah’ dan yang bertanggung jawab, dalam laporan TPGF hanya mengarah tetapi tidak menunjuk kalau Prabowo yang bersalah.

Dan ketika saya merunut kembali beberapa buku yang dikutip diblog, dan yang mengganjal saya adalah soal beberapa Jendral penting yang justru menghadiri acara seremonial di Malang pada Mei 1998? (tanggalnya saya lupa).  Beberapa hari sebelum kerusuhan semakin memuncak di bulan Mei 1998. Sebenarnya sudah ada laporan intelejen masuk ke TNI/Polri, dan yang mengganjal saya mengapa Jendral Wiranto dan beberapa orang penting di TNI justru menghadiri pertemuan seremonial di Malang? Disinilah yang membuat saya gundah, galau. Dimana sudah ada informasi intelejen akan terjadi chaos di Ibukota Jakarta malah Jenderal malah pergi, mungkin menurut saya ada baiknya saat itu Prabowo pergi ke Malang. Pasti dia saat ini tidak akan disangkut pautkan dengan kerusuhan Mei 1998. 😛

Masih ingat pernyataan Prabowo ketika ditanya oleh Jusuf Kalla mengenai kasus HAM? Prabowo menjawab “coba tanya atasan saya”. Pernyataan ini menurut saya menjadi ketakutan bagi atasan Prabowo saat itu, siapa lagi kalau bukan Wiranto. Yang akhirnya Wiranto membeberkan berkas ‘pemecatan’ dari Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang jelas-jelas itu dokumen rahasia. Perlukah seorang Perwira berpangkat Jenderal membuka informasi rahasia ke publik? bagi saya itu blunder sesungguhnya. Bayangkan cuma satu dokumen rahasia yang Wiranto beberkan ke publik, gimana nasib dokumen rahasia yang lain? semoga saja dokumen DKP itu palsu dan Wiranto ataupun Jenderal lain nggak jualan dokumen rahasia ke negara lain. (serius bener ya?)

Operasi Intelejen dan Masyarakat Awam
Saya memang tidak memiliki latar belakang intelejen, karena saya hanya masyarakat awam yang mencoba memahami apa yang terjadi pada yang lalu-lalu. Bagi saya operasi intelejen adalah operasi rahasia, apakah masyarakat butuh mengetahui? bagi saya tidak perlu, media? tidak perlu. Mengapa? karena dapat memicu konflik, ataupun penolakan atau tidak sama pendapat atas operasi intelejen yang akan dilakukan.

Saya mencoba mundur pada peristiwa Timor Timur? Balibo? berburu Fretilin? salahkah menjalankan operasi Intelejen disana? masyarakat se Indonesia perlu tahu?  Bagi saya tidak. Hanya mereka-mereka saya yang memang berkepentingan melaksanakan tugasnya, menjadi mata-mata, menggunakan orang lokal untuk menggali informasi, menyusup kemudian membunuh? Tentara tentu mempunyai alasan mengapa harus membunuh Fretilin. Menurut saya demi menjaga kesatuan NKRI. Jikalau membunuh Fretilin adalah pelanggaran HAM? saya mbuhlah.

Dan apakah kita mengetahui apa sebenarnya 5 jurnalis Australia? bisa mereka murni jurnalis atau jeleknya mereka intelejen berkedok jurnalis? kita tahu? nggak kan? . Walaupun kata teman bernama Wisnu, jika ada operasi intelejen maka harus ada balasan kontra intelejen. Nalar saya mandeg, bingung bagaimana harus di kontra intelejen.

Kembali ke kejadian Mei 1998 soal penangkapan aktivis oleh Tim Mawar, yang akhirnya dikembalikan. Mereka menangkap pasti ada sebabnya? ingin mengamankan stabilitas nasional serta mendapatkan sebuah informasi terkait dengan pengeboman sebelumnya, ataupun gerakan membahayakan yang lain. Jika kalian bertanya mengapa bukan polisi? menurut saya polisi saat itu tidak cukup berani, mereka tidak memiliki kemampuan tim khusus seperti TNI dengan Kopasus-nya. Secara dasar pelatihan tim Brimob dengan Kopasus itu berbeda, jadi atas dasar ini saya mewajarkan mengapa Tim mawar yang didalamnya anggota Kopasus untuk menjalankan penangkapannya.

Wait? menangkap harus ada surat perintah dari kepolisian? memang benar adanya. Tetapi ketika dalam keadaan mendesak sekali apakah masih butuh itu? mari kita berpikir logis. Karena operasi Tim Mawar bersifat intelejen, maka dari itu apakah masyarakat awam perlu diworo-woro? apakah media perlu me-woro-woro? Apalagi 1998 sendiri SIUPP belum dicabut dalam artian 1998 pers belum bebas, masih dalam kontrol Departemen Penerangan.

Obrolan demi obrolan.
Saya memilih Prabowo saat Pilpres kemarin, karena saya yakin dengan latar belakang kepemimpinan beliau. Atas cerita-cerita dua orang sahabat saya yang bapaknya pernah dikomandani oleh Prabowo, dan obrolan serta diskusi dengan teman yang paham dan sadar mengapa tiba-tiba elektabilitas Jokowi naik secara drastis. Walaupun yang dilakukan beliau itu benar, dan news value. Akan tetapi sikap malu-malu beliau ketika sebelumnya ditanya mengenai naik jadi bursa Capres itulah yang saya agak bingung dan ragu.

Sebenarnya saya memahami keinginan kebanyakan masyarakat Indonesia, adalah pemimpin yang merakyat? betul kan? ya seperti Joko Widodo. Dan saya sempat ngobrol dengan mas Dalijo, mengapa memilih Joko Widodo. Kesimpulannya adalah karena ketakutan-ketakutan masa lalu, preseden masa lalu. Ya saya pahami itu, prabowo memang dicap menakutkan, publikasi iklan TVC buat gerindra intens sekali, baliho-balihonya dimana-mana. Karena menurut saya hanya itu satu-satunya yang bisa beliau lakukan, karena beliau tidak berada dalam lingkup yang akan mendapat liputan seperti joko widodo ketika menjabat Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

Saya yakin pak Prabowo bersifat Ksatria, jika beliau kalah dalam pemilihan Presiden 2014. Beliau akan lapang dada, kembali mengurus usahanya, naik kuda, kemudian tentu mendukung Jokowi dan Jusuf Kalla. Yang saya sayangkan adanya pernyataan yang potensi memicu kecurigaan, seperti yang diucapkan presidium Seknas Jokowi “Kami sudah melakukan konsolidasi di semua wilayah, hingga pembasisasn relawan ditingkat kecamatan. Selain membentuk relawan penggerak pemilih, kami juga akan menerjunkan para relawan di TPS-TPS. Dari hasil laporan teman-teman di daerah, kita yakin pasangan nomor  urut 2 akan menang, dan hanya kecurangan yang dapat mengalahkan Jokowi-JK,”

 

 

-Sekian selamat menunggu hasil akhir dari KPU pada tanggal 22 Juli 2014-

Tulisan daeng mengenai Zarry Hendrik dan Arman Dhani
T
ulisan Cak Ipho mengenai mengapa dia mendukung Prabowo

2 thoughts on “Mengapa saya memilih Prabowo Subianto?”

  1. hih! *tutup muka* *face old than real age*
    tep tuaan kamu kok mas ariev. dua tahun laa.

Tinggalin komentar ya