[Analisa Media] Calon Presiden Indonesia Media Darling

jokowi-prabowo-kompas image-fotodeka-photostock

Oke pada postingan ini kami akan membahas mengenai Media Darling dua calon Presiden Indonesia kemarin. Walaupun tulisan #susahmoveon, tidak ada salahnya kami membagikan sedikit dari apa yang menjadi sesuatu hal yang mengganjal bagi saya.

Menurut kamus mediadarlingpr.com Media Darling sendiri berartiĀ  “

1 : somebody popular with media

2 : a well-known and popular person or company, whose activities are widely covered by the mass media

Nah dari pengertian diatas kira-kira bisa ditarik dari dua calon Presiden Indonesia kemarin. Pasti sudah pada menebak Joko Widodo yang media darling, sedangkan Prabowo Subianto tidak. Hahaha. Ya jelaslah, tapi gini. Coba kembali ke duduk persoalan mengenai analisa goblok-goblokan saya.

Sejauh ini saya belum menemukan jurnal, ataupun penelitian komunikasi yang mengangkat topik mengenai intensitas pemberitaan Jokowi dan Prabowo. Mengapa? Karena banyak pakar komunikasi, ataupun ahli strategis politik yang memang terlibat sebagai man behind Jokowi.

Walikota Solo dan Penggembala Kuda.
Maaf pak Prabowo, bukan kami menghina anda. Tetapi counter inilah yang diberikan pada saat kampanye masa Pilpres kemarin. Anda sebagai sosok gagah berkuda, yang ketika kalah pasti ngangon kuda. Dan para pendukung Jokowi tidak peduli kuda-kuda yang anda urus itu untuk Tim Atlet Berkuda Indonesia.

Sedangkan pak Jokowi yang sudah sejak di Solo begitu gencar sekali pemberitaannya. Ya memang benar di Solo begitu pesat perkembangan kotanya, tentu hal ini tidak lepas dari Jokowi memimpin kota ini selama 1 periode lebih sedikit (soalnya nyalon Gubernur DKI). Ada banyak yang bisa jadi berita dari sosok Jokowi sebagai Walikota Solo sampai Gubernur DKI Jakarta.

Dari kedua tokoh ini memang secara goblok-goblokan total pemberitaan Jokowi jauh lebih tinggi dibanding Prabowo. Saya secara awam mewajarkan hal itu dengan variable, jabatan, kedudukan, serta latar belakang mereka. Lah Prabowo emangnya siapa? ngasih apaaan ke Masyarakat? mungkin bisa ditanyakan ke warga masyarakat sekitar komplek rumah beliau yang di Hambalang. Kalau ada wartawan malas mengulik soal kecil begini, itu wartawan goblok tapi pintar! Karena berita Prabowo perkiraan akan naik cetak atau tayangnya jauh lebih kecil.

News Value Jokowi dan Prabowo
Apa sih yang jadi nilai berita bagi Joko Widodo dimata pers, dimata wartawan, ataupun media? ada dan sangat banyak. Sudah tentu tidak dibanding Prabowo Subianto yang militer (sudah tentu militer kalau turun perang mesti tangannya berdarah)

Logika bodohnya yang menarik bagi saya adalah, sedikit atau sekecil apapun pernyataan, atau tindakan Joko Widodo adalah bernilai berita (news value). sedangkan jika Prabowo Subianto melakukan aksi sosial, berbuat baik itu tidak bernilai berita. Melainkan jika Prabowo disidangkan ataupun terkait dengan mengusut kasus Pelanggaran HAM 1998, penculikan itu baru berita.

Dalam hal ini sama kata teman kami Ardi Wilda, kalau Dwi mbribik, ngelonin pacar orang, ataupun cerewet di media sosial sampai diblock itu bukan berita. Dwi itu bernilai berita kalau misalnya lulus, atau punya pacar. Kira-kira begitu analoginya.

Nah kalau kita coba berpikir agak cerdas dan nggak goblok. Mari kita hitung jumlah pemberitaan Jokowi ketika menjadi Walikota Solo pada periode pertama dan kedua seberapa besar dan intens. Pada rentang waktu yang sama coba dibandingkan dengan apapun pemberitaan mengenai Prabowo. Kami pikir teman-teman dari studi ilmu komunikasi atau ilmu politik atau juga kalangan anak-anak UKM Pers tertarik dengan hal ini, kalau tidak tertarik berarti kalian anu banget deh.

Berdasarkan analisa kami, dan data-data yang kami kumpulkan. Jumlah pemberitaan Jokowi jauh lebih unggul dibanding Prabowo pada rentang waktu 2008-2011. Walaupun berita-berita tentang Jokowi pada masa lalu, ketika diungkit-ungkit lagi pada saat ini ketika beliau menjadi Presiden, sudah dianggap tidak relevan bagi kalangan pendukung Jokowi garis keras.

Sedangkan kita sangat terganggu dengan Prabowo yang beriklan melalui media televisi alias biasa disebut TVC (Television Commercial). Kemudian materi publikasi baliho berukuran sedang sampai besar dijalan-jalan strategis. Bagi kami hal itu wajar, karena itulah satu-satunya yang bisa Prabowo lakukan. Mengapa? Karena hampir setian wartawan atau kuli tinta yang datang meminta waktu wawancara dengan Prabowo selalu berurusan dengan kasus pelanggaran HAM. Sedangkan tidak pernah menganggat sisi humanis seorang anggota Kopasus? anggota TNI AD anggota kesatuan lain? ataupun sisi lain non kasus HAM. Mengapa? Karena yaitu tadi kami sampaikan. Prabowo memiliki nilai berita kalau terkait pelanggaran HAM.

Tinggalin komentar ya