[Review] SLR Semi-Pro Canon EOS 55 Elan

Hi netters, kali ini kami akan mengulas salah satu kamera film 35 mm atau kamera klise (bukan klise sebagai ungkapan, *halah*). Sebenarnya ini salah satu kamera film 35 mm milik Canon yang pada masanya termasuk kamera semi-professional.

Kamera film 35 mm yang terhitung semi analog ini, dipasarkan September 1995. Dan berada dipasaran sampai tahun 2000. Kamera ini memiliki tipe yang berbeda-beda, walaupun dengan basis teknologi yang sama. Penamaannya berdasarkan wilayah pasarnya, seperti milik saya EOS-55 merupakan untuk pasar lokal Jepang, kemudian seri Rebel Elan II/Elan IIE untuk pasar Amerika, dan EOS 50/50E untuk pasar diluar Jepang dan Amerika.

Canon EOS 55 tampak depan
Canon EOS 55 tampak depan

Kami menyebutnya ini sebagai kamera film semi professional, karena secara fitur sudah seperti kamera professional pada masanya. Tetapi material untuk kamera ini diubah menjadi plastik, tetapi bagian atasnya sudah menggunakan alumunium, sudah menggunakan mount lensa EF dengan material stainless stell.
Sama halnya dengan kamera DSLR saat ini, yang paling utama adalah material dasarnya kamera, setelah itu fitur-fiturnya. Pada SLR Canon EOS 55/Elan ini sudah dilengkapi dengan fitur layaknya professional, seperti LCD Panel yang berisi keterangan pemotretan, mode pemotretan, dari Manual, sampai full otomatis.

Canon EOS 55 Tampak Atas
Canon EOS 55 Tampak Atas

Serta dilengkapi LCD date imprint, dimana bersisi keterangan waktu pemotretan yang dapat disetting. Tampilan serta tombol-tombol SLR Canon EOS 55 ini, sudah lengkap kami menganggapnya ini kamera professional. Karena sudah memiliki autofokus, kemudian flash internal dengan kemampuan E-TTL. Dan sudah dilengkapi dengan hotshoe untuk dipasangkan dengan flash speedlite canon untuk hasil yang maksimal.


Dan ketika memotret dengan minim cahaya, SLR EOS 55 ini sudah dilengkapi assist lamp. Yang berguna untuk memandu auto fokus, mungkin jika kurang kita dapat menggunakan lampu senter atau mengubah menjadi manual fokus :P.
Untuk kecepatan memotretnya sudah sampai 2.5 fps, tetapi lagi-lagi yang perlu dipikirkan saat ini jika memotret dengan kamera film menggunakan shutter continous rasanya nanti roll filmnya cepat habis. Jadi sayang dong? 😛

Kelebihan Canon EOS 55/ELAN/50
Sudah dilengkapi fitur kamera professional, memiliki kemampuan autofokus yang cukup baik ditambah lampu assist, setelah itu sudah dilengkapi dengan flash internal dengan E-TTL.

Cukup memudahkan buat yang ingin kembali memotret dengan kamera analog atau kamera film tanpa harus repot untuk memikirkan lightmeter, dan berbagai macam.

Harga cukup terjangkau buat yang ingin memotret dengan SLR atau kamera analog film. Apalagi sudah support Lensa EF, jadi lebih mudah pinjam-pinjam lensa teman.

Yang paling asik ialah adanya fitur panorama, dimana hasil jepretan sudah langsung ter-crop dengan format panorama.

Kekurangan Canon EOS 55/ELAN/50
Sebenarnya jika dibandingkan dengan kamera DSLR, ya namanya kamera SLR yang masih menggunakan film. Tentu ongkos atau biaya produksi sebuah karya menjadi lebih mahal. Karena untuk saat ini harga roll film, cuci film, scan film cukup menguras kantong. Disinilah mengapa biaya produksinya mahal. 😛

Setelah itu, kekurangan kamera ini terletak pada penggunaan baterai dengan jenis 2CR5. Yang saat ini dibanderol sekitar 150ribu-200ribu rupiah kalau tidak salah. Dan konsumsi daya SLR Canon EOS 55 ini tergolong boros. Hal ini sebenarnya bisa diakalin dengan mencari Battery Grip yang bertipe BP-50. Bisa menggunakan 4 buah batterai AA.

Kesimpulan.
Sebenarnya kamera Canon EOS 55/ELAN/50 ini masih layak untuk digunakan sebagai kamera SLR / Analog harian, ataupun sekadar mengerjakan project pribadi. Mengingat kini, kamera film kembali ramai digemari oleh kalangan tertentu.
Dengan kisaran harga 700-900 ribu rupiah, tergantung kondisi kameranya kalian sudah bisa mendapatkan. Tentu belum termasuk Battery Grip, dimana BG-nya yang asli sendiri dibandrol dikisaran harga 500-600ribu rupiah disitus ebay.com.

8 thoughts on “[Review] SLR Semi-Pro Canon EOS 55 Elan”

  1. Arif – ho oh mas, kira-kira begitu. Cuma beda material utama aja, kalau yg pro kan magnesium, kalau ini plastik.

  2. kalau fitur sih relatif sama, toh pake film. nah kalau performa masih lebih mantap yg pro. lebih terasa berat, dan kokoh.

Tinggalin komentar ya