[Tips] 3 Alasan Membeli Mic Tambahan Untuk DSLR

Saat ini sudah eranya High Definition DSLR, yak dimana saat ini para Sinematografer, tukang soting, sudah beralih ke alat rekam DSLR. Alasannya sederhana, kualitas gambar yang dihasilkan jauh lebih baik dibanding dengan Camcorder jika dibandingkan dengan harga yang sama. Terkadang mic menjadi kebutuhan tambahan ketika proses produksi video atau film, sewa atau rental mic DSLR menjadi pilihan tepat disaat belum memiliki.

Behind The Scene Citra Pariwara 2010. Tami, Lolitya, Wilda. Saat itu saya diberi kepercayaan untuk menjadi videografer-nya, saat itu saya merekam tanpa menggunakan microphone tambahan pada Canon 7D saya, tidak ada budget. Tetapi dengan
Behind The Scene Citra Pariwara 2010. Tami, Lolitya, Wilda. Saat itu saya diberi kepercayaan untuk menjadi videografer-nya, saat itu saya merekam tanpa menggunakan microphone tambahan pada Canon 7D. Suaranya sudah cukup, kan sesuai budget.

Semua DSLR dan mirrorless kini sudah dilengkapi dengan fitur video, hanya berbeda teknologi prosesor, ukuran sensor dan fitur tambahan lain. Sedangkan untuk part audio, memang dikesampingkan. Ya logikane kowe arep motret kok yo ngapiki audione (kamu mau motret, tapi kok memperbaiki suaranya). Jadi wajar saja, pada kamera DSLR atau mirrorless memiliki kualitas audio yang cukup jelek, tidak dapat diandalkan. Tetapi kalau gambar? Ya silahkan dibandingkan dengan ukuran sensor yang sama (tapi kan budgetnya nggak kuat?)

1. Urgency Kebutuhan
Oke seberapa butuh kalian membeli Mic tambahan untuk DSLR? selama memang kalian tidak butuh ngapain beli? masih bisa sewa atau rental kan? Atau mungkin pinjam teman. Sekalian silahturahmi ke teman yang punya, mempererat Silahturami kan pahala :P.
Terkecuali memang kalian sangat butuh dalam artian memiliki, membeli. Dalam hal ini agak lucu ketika kalian hanya ingin membeli dalam rangka tugas kuliah kelompok, memang ada dana dari kampus. Tapi masak ya dibeliin alat? bukan biaya produksi. Toh kegiatan kampus kan bisa pinjam cuma-cuma dengan alat kampus. -tergantung kampusnya sih-.

BTS Dokumenter Maaf, Bioskop Tutup. Saat itu kami menggunakan soundcard berbentuk kibor milik Efan, yang dihubungkan dengan ClipOn pinjaman. Teknologi Handyrecorder masih cukup langka saat itu.
BTS Dokumenter Maaf, Bioskop Tutup. Saat itu kami menggunakan soundcard berbentuk kibor milik Efan, yang dihubungkan dengan ClipOn pinjaman. Teknologi Handyrecorder masih cukup langka saat itu.

2. Ingin Tampil Beda.
Nah kalau ini saya agak bingung ngejelasinnya, mungkin bagi professional atau yang bekerja mencari duit sih itu karena kebutuhan.


Tetapi kalau tampil beda, mungkin dilatarbelakangi kalian kelebihan uang. Jadi beli Mic deh, itu pun berbagai macam jenis Mic kalian beli. Urusan cara pakai belakangan, sambil jalan bisa, dan tanya-tanya diforum. Nanti tinggal tanya di forum, cara menghidupkan clip-on wireless gimana. Atau malah tanya settingan audio biar bagus gimana, padahal doi pakenya Mic DSLR entah merk apaan.
Minimal waktu shooting keliatan gitu DSLR ada micnya, wih keren ada MICnya, terus ditanyain harganya. Bangga dong ditanyain harga, apalagi yang dibeli Rode yang 4 jutaan.

Setting WeddingClip. Canon 5d mk ii punya client, Lensa Canon 24-70 f 2.8 L II sewaan, Mic Rode rycote punya sendiri. Bersyukur masih ada pinjaman.
Setting WeddingClip. Canon 5d mk ii punya client, Lensa Canon 24-70 f 2.8 L II sewaan, Mic Rode rycote punya sendiri. Tidak selamanya harus membeli, pada foto sebelumnya saya tidak membeli/menggunakan karena memang proyek sosial. Memaksimalkan yang ada tanpa harus diada-adakan kan nggak apa-apa.

3. Seriusan Perlu
Nah kalau yang emang perlu beneran sih wajar, misalnya penggunaannya sering. Dan memang kamu produktif, mungkin juga professional juga ding. Ya tentu ongkos produksi juga kalian hitung jika menggunakan barang pribadi, minimal biaya penyusutan alat adalah.
Misalnya kamu pekerja film, wedding clip, minimal kalian wajib punya alat secara mandiri. Ya maksudnya biar nggak ribet aja ketempat rentalan, begitu mau kerja tinggal packing dan berangkat. Itupun tentu menyesuaikan kebutuhan kalian, biasanya pengguna DSLR menggunakan shotgun mic untuk sekadar memperbaiki audio bawaan mic internal kamera.

Sekian tips nggak serius dari ane, versi seriusnya nanti ada kok disini. Semoga nggak latah pada beli, kalau bisa sewa atau rental mic buat DSLR ya mending rental dulu.  Dan jika kalian di Jogja, Yogyakata membutuhkan sewa mic atau microphone untuk DSLR, atau bahkan butuh sewa / rental Zoom H4N. Bisa menghubungi kami melalui facebook pages. Harga sewa / rental mic, audio untuk videography kami lebih murah.

6 thoughts on “[Tips] 3 Alasan Membeli Mic Tambahan Untuk DSLR”

  1. Untuk kesan profesionalitas, kualitas audio tidak bisa ditawar. Bahkan ada kredo, gambar boleh goyang, tapi suara harus jernih.

  2. untuk hore-hore, dan minim budget tidak butuh beli mic mahal yang penting suaranya kedengeran 😛

  3. Bang klo sony hdr mv1 bisa kah ditambah mic ? mic tambahan pd kamera itu membuat suara jernih itu langsung live kan ya gak prlu misah2 rekam

  4. sony HDR MV1 asal ada slot trs (soket audio inputnya) bisa ditambah MICnya, kamera video biasanya soket input audio TRS atau XLR.
    bukan membuat jernih sih, lebih tepatnya lebih baik daripada MIC internal kamera.

Tinggalin komentar ya