Awal Tahun Dan Semua Harapan

Kapan terakhir  update duhai dwi? oh ya sekadar intermezzo ucapan terima kasih mengenai kelulusan yang agak terlambat. Soalnya ucapan terima kasih dalam wujud cetak pun sungguh ringkas. Karena esensi skripsi memang syarat untuk meraih gelar Sarjana, kecuali kisanak ingin terjun didunia penelitian, akademisi.

Entahlah mungkin sudah saatnya namanya blog fotodeka , tidak lagi menyajikan tulisan mengenai tips foto, video, karena memang pada dasarnya ini brand yang memang sudah amburadul ketika dibuat. Kalaupun menulis mengenai catatan dibalik layar, karya audio-visual yang pernah saya kerjakan bareng Yogi, Awe, Mas Zulfi mungkin jadi kayak menggurui. Atau mungkin bisa untuk meraih receh Google Adsense yang makin kemarin, beneran receh karena konten buruk tapi kuantitas bermamburan didunia maya.

Selamat Atas Pernikahan Yustan dan Susan. Oh ya sekarang anak mereka sudah gede, dan bisa lari-lari.
Selamat Atas Pernikahan Yustan dan Susan. Oh ya sekarang anak mereka sudah gede, dan bisa lari-lari.

Tentang Harapan.
Setelah menuntaskan kewajiban utama diakhir 2015 kemarin, rasanya masih belum ingin beranjak kaki ini dari Kota Pelajar. Dan saya mencoba serabutan untuk nyambi bareng Pak Jepret ‘Perjuangan’, Iframe Multimedia dan Catchlight Pictures. Ya ketiga Production House , yang salah duanya saya memang secara tidak langsung ikut seru-seruan. Hasilnya? ya setidaknya saya belajar survive sebisanya, dan terbukti bisa. Cuma masih kepikiran, memang menjadi freelancer sepertinya benar-benar harus multitalenta atau setidaknya benar-benar fokus dan betul-betul paham profesi dan pekerjaannya.

Dan masih ada resolusi yang terbengkalai dulu, yaitu saya memang sangat ingin kembali memotret. Ya kala itu masih motret kejadian, jadi fotografer abal-abal. Karena ya emang sengaja ngintilin temen-temen Pewarta Foto, biar bisa belajar seperti apa angle-nya, proses dilapangan, sampai seusai jam kerja. Tapi entah kapan saya akan kembali kesini, mengingat Sigit yang dulu masih magang ANTARA sekarang sudah di ANTARA Jakarta, mas Mimit yang dulu sempat di RADAR Jogja, yang beralih entah kemana. Tetapi itulah pekerjaan, ada tantangannya masing-masing. Dan saya memang menyukainya, ya walaupun dulu hanya ke-selo-an belaka, tidak bisa dipungkiri memotret kejadian semacam memacu adrenalin (halah)

Masih ada harapan lain, yaitu pulang kampung ke Samarinda. Lebih dekat dengan orang tua, tentu karena permintaan beliau. Yang pada akhirnya beliau memasrahkan pada saya sendiri, “sik penting kowe seneng le, dan iso bertanggung jawab. Jangan lupa Sholat” . Sesederhana pesan Ibu, dan Ayah yang selalu mengingatkan seorang anaknya yang lebih dari seperempat abad. Ya kalaupun memang rejekinya saya di Samarinda, mungkin surat lamaran yang memang saya kirimkan lewat jasa POS 3 bulan lalu ada satu dua yang tertarik. Dan sayangnya tidak kawan, dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Jogja. Sampai Jumpa Samarinda, kalau liburan atau memang gayung bersambut disana. -kalau nggak bersambut, paling ya berkasku kalah saing sama titipan, atau memang nggak siap kemasukan lulusan dari luar Kaltim-

Harapan Lain
Sesederhana anak muda yang mengarah tua, ya muka saya mungkin tampak berumur 33 tahun. Tapi sungguh saya masih 27 tahun saat ini diketik. Tapi lupakan umur, mungkin sudah suratan kalau secara biologis jadi tampak tua 😛

Sebenarnya ada satu yang masih mengganjal. Tentang Perempuan itu, ya mungkin diantara teman-teman dekat ataupun teman kuliah atau teman sekolah. Lagi-lagi soal branding yang mungkin sudah terlanjur ‘cacat’, “yaelah dwi ndeketin siapa lagi?” atau “lah lu tebar jaring, bukan mancing”   atau “wik, fokus wik. satu aja nggak jadi, ngapain yang lain”. Nah dari situlah  kemudian saya mikir, sebegitunya kah saya? ya badboy sih iya, tapi ngga ada yang sampe jadian kok. Semua kandas disimpang jalan.

Dan disuatu percakapan diminggu pertama tahun ini, dari Perempuan yang disana. Ya sesederhana chat “hae” . “apa kabar?” yang selalu diacuhkan mungkin sibuk. Ya wajar, kali aja saya ngirim chat template ke 10 atau 20 kontak yang berbeda. Tidak, kalaupun chat iseng itu cuma ke satu dua. Dan tiada yang membalas. #surem

Sesederhana aku tidak paham bagaimana mengenalkan secara personal, ke ibuku saat berjumpa di #YustanManten . Dan sungguh saya memang tidak paham bagaimana cara memulainya, dan sungguh failed sekali. Niatnya ngenalin kamu, lah malah ibuku yang tak ajak ke kerumunan kalian. Ya setidaknya dari situ saya belajar, bagaimana mengenalkan orang tua diantara keramaian.

Saya percaya membangun chemistry bukan sulapan, bahkan melakukan riset sosial, riset sebuah komoditi bukan sulapan. Kalau mau proses singkat dua minggu. Saya masih percaya proses yang tidak instan, tidak bersua bukan berarti tidak saling mendoakan untuk kebaikan. Dan memang semuanya butuh waktu kawan.

Tulisan ini ditujukan untuk Perempuan pengembara Nusantara, yang dulu pernah jadi penyiar di UNISI Jogja

Tinggalin komentar ya