Penampakan kosan pertama saya di Jogja. Diambil Akhir 2007, ini foto waktu mau siap-siap touring bareng anak-anak kosan.

Biaya Hidup di Kota Pelajar Jogja 2007

Pada tulisan lampau, saya sempat janji pengen nulis soal ini. Mengingat makin kemari, Jogja menjadi jauh lebih metropolitan dibanding pertama kali saya menginjakkan kaki Agustus 2007.

Penampakan kosan pertama saya di Jogja. Diambil Akhir 2007, ini foto waktu mau siap-siap touring bareng anak-anak kosan.
Penampakan kosan pertama saya di Jogja. Diambil Akhir 2007, ini foto waktu mau siap-siap touring bareng anak-anak kosan.

Mungkin ini bisa jadi panduan, atau bisa jadi refleksi orang tua, ataupun keluarga yang mengirimkan anaknya untuk kuliah di Jogja. Karena pengalaman saya ketika selama kuliah di Jogja sampai akhirnya harus angkat kaki dari kota pelajar tersebut mungkin bisa jadi manfaat buat yang lain.

Biaya Hidup (Living Cost) di Jogja Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2007, Upah Minimum Regional Provinsi Yogyakarta kisaran dibawah Rp. 700.000an . Kemudian ketika saya meninggalkan Jogja ditahun 2015 Rp. 900.000an . Nah kembali kepada seberapa besar uang kiriman orang tua saya medio 2007 sampai 2014. Sebenarnya ingin agak buka-bukaan. Karena ada sedikit kejanggalan bagi saya pribadi, karena sebagian besar orang tua menyekolahkan anaknya di Jogja karena berasumsi bahwa biaya hidup disana lebih murah, serta pendidikannya lebih baik. Pada tahun 2007, saya mendapat uang kiriman sebesar Rp. 1.300.000 , itupun setelah saya mencoba mengkalkulasi . Ayah saya menyuruh berapa segala macam biaya, dari Bensin, uang Pulsa, uang makan, uang jajan. Sehingga angka 1,3 juta menjadi rumus yang berlaku (rasanya) dari 2007 sampai 2010. Penjabaran 1,3 juta per-bulan di Jogja pada medio tersebut kira-kira demikian, sehari makan Rp. 10.000 x 3 x 31 Rp. 930.000 , kemudian sisa Rp. 370.000 . Cukup untuk beli pulsa Rp. 100.000/bulan, kemudian sisanya bensin Rp. 270.000 /bulan .

Suasana Silahturahmi kerumah teman kosan, Danur anak Peternakan di Wonosari.
Suasana Silahturahmi kerumah teman kosan, Danur anak Peternakan di Wonosari.

Kemudian bagaimana uang buku? Sejauh saya kuliah, dengan uang tersebut saya masih bisa langganan Harian KOMPAS setahun (antara tahun 2008-2010), sedangkan buku kuliah kadang saya sisihkan dari uang makan. Ataupun terpaksanya minta lagi sama Ayah. Cukup lho pada medio itu uang 1,3 juta sebulan. Nah mengapa saya menjabarkan demikian ditahun 2007-2010? Karena pada medio tahun tersebut, sebagian besar teman perantau dari Kaltim living cost bulanannya minimal 2 sampai 3 juta perbulan. Makannya saya heran, lho kok mereka bisa nabung yha? Hehehe.

Karena memang saya tidak berpikir nabung dari uang kiriman yang saat itu memang saya desain se-minimalis mungkin versi orang Kalimantan Timur. Sedangkan beberapa teman saya ada kok yang mendapat kiriman dari orang tuanya dibawah saya. Disitulah yang menjadi motivasi saya, gimana caranya meminimalisir biaya hidup versi saya. Ya memang ada perubahan biaya hidup, karena BBM naik, tarif listrik naik, dan lain-lain yang naik. Sehingga kalau tidak salah, uang kiriman orang tua saya antara tahun 2010 – 2013 diangka 1,5juta/bulan. Sedangkan saat detik-detik akhir kuliah 2014-2015, kiriman saya dipangkas jadi 800ribu/bulan. Mbuh Piye Carane Kudu Cukup Kemarin sewaktu di Jogja saya mencoba memaksimalkan uang kiriman yang sudah dirancang dan disepakati dengan orang tua. Dan bagi saya sendiri kemarin itu banyak lho, ciyus! Coba dipikir 1,3juta x 36 bulan. Hokya? Kalau dihitung banyak juga kan?

Bayangin kalau kamu yang ganti posisi jadi orang tua. Oh ya pada tahun pertama saya minta meninggali sebuah kos-kosan putra, dengan kamar berukuran 2,5 meter x 2,5 meter , dengan dinding sebelah masih papan, kamar mandi luar, tetapi agak lega ada teras serta halaman lengkap dengan pohon mangga (akhirnya dipotong) , bonus ada dapur yang sebelahan sama gudang. Berapa biaya kosan perbulan saya saat itu? Kalau tidak salah lho, 250ribuan – 300ribuan / bulan (sudah sama listrik) , Karena saya tidak butuh televisi, ada TV diruang tengah yang kami tonton bersama. Kosan kami berisi 8 kamar + 3 kamar (bagian depan) . Jadi sebenarnya biaya hidup sebulan akhirnya 1,6jutaan perbulan kan? Tuh banyak yeee.. Ada kalanya makan ngirit banget, ada kalanya makan hura-hura.

Foto bareng Squad kosan yang ikut turing Desember 2007. Rasanya di Pantai Sundak, Krakal atau mana gitu. Lupa.
Foto bareng Squad kosan yang ikut turing Desember 2007. Rasanya di Pantai Sundak, Krakal atau mana gitu. Lupa.

Tetapi  lebih sering cari makan murah asal wareg, karena prinsipnya asal kenyang. Karena didapur kos ada kompor minyak tanah, kami pun akhirnya nyetok mie instan setiap kali dapat uang kiriman. Setidaknya ada setengah dus untuk sebulan, kemudian nyetok sarden, beli kecap, minyak makan, dan kalau beli telor kami beli eceran diwarung klontong dekat kosan. Tidak terlintas sama sekali iri soal beda uang kiriman diantara perantau, tetapi saya justru bersyukur. Karena temen-temen saya banyak yang kiriman orang tuanya dibawah saya dan fine-fine saja. Nggak percaya? Buat kalian yang asalnya dari Kalimantan Timur, atau luar Pulau Jawa.

Berapa coba uang kiriman dari orang tua pada medio 2007-2010 ? Sebenarnya cukup tidak cukup, itu soal konsep keinginan dan kebutuhan. Kalau ingin itu tidak terbatas, kalau kebutuhan itu jelas batasnya.

Tinggalin komentar ya