Tag Archives: catatan perjalanan

[Catatan Perjalanan] Menunggu Lampion Waisak

 

Screening Pintu Manohara_Waisak Borobudur_2013_2 Screening Pintu Manohara_Waisak Borobudur_2013 Waisak Hujan_Borobudur_2013

Saya agak bingung kalau baca postingan soal riuhnya perayaan hari raya Waisak tahun ini, membaca soal yang mengkritisi tata krama pengujung yang datang, atau menceritakan ”traveller gila” yang berkali-kali di retweet, atau mungkin sekedar saya yang gagal menikmati Bakmi Jowo-nya pak Parno.

Ketika melihat foto Pesona Waisak di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, membuat saya tertarik untuk bercerita sedikit bagaimana prosesi Waisak 2013 kemarin. Mungkin kita tahu dari banyak kicauan dari twitter mengenai ini, dari beberapa postingan blog dan situs berita online. Bagaimana ketika semua prosesi ibadah menjadi sebuah paket wisata ‘lampion’.

Kalau membaca tulisan kawan saya Dhani, yang soal Pledoi itu. Yah komentarnya lebih lucu, daripada tulisannya yang membuat berpikir. Atau yang disini, yak! Membahas soal semiotika fotonya. Dan saya nggak punya apa-apa dong? Buat di semiotika-in fotonya? Apalagi tulisannya.

Saya dan teman-teman PPC setelah gagal menikmati Bakmi Jowo akhirnya memutuskan untuk menyudahi penantian tak kunjung usai demi semangkuk bakmi. Kita semua pun pergi meninggalkan warung itu, dengan membatin ”Es Jeruk e delapan ribu men”. Tapi untungnya saat mampir ke Warung kita diberikan kartu peserta yang kebetulan berlebih diwarung itu. Maklum, karena tanpa kartu peserta atau kartu umat kita tidak bisa memasuki wilayah candi Borobudur. Sayangnya setengah dari rombongan kita tidak memiliki kartu tersebut, dan terbersitlah niat untuk mengulang kejadian 2009. Saya dan teman-teman dulu sempat mencari jalan tikus untuk memasukin wilayah Candi Borobudur. Yah itu dulu beruntung ketemu local heroes Borobudur yang tau jalan pintas kedalam, sayangnya malam itu kita hanya bertemu sekelompok anak kecil yang ”katanya” tahu (padahal yo ora ngerti blas).

Kami berjalan tergesa-gesa menuju pintu Manohara, karena malam itu kalau mau masuk lewat loket dihitung bayar tiket sama Satpamnya. Kami pun bergegas ke pintu Manohara, dan selamat! Jalan mengarah kesana benar-benar stuck kiri-kanan badan jalan jadi tempat parkir ditambah kendaraan Polda Jawa Tengah ikut-ikutan nutup, kagak cari tempat parkir agak jauh aja nape deh.*duh mendadak sewot*.

50 meter sebelum Manohara sudah tampak kerumunan manusia tetek bengek entah darimana, siapa, dan mereka pada punya kartu peserta nggak? Ya intinya kan mereka kudu punya kartu peserta nih. Kalau nggak punya ikut-ikutan ngantri tuh malah nyusahin yang punya kartu mau masuk tauk. Oke, ditengah hujan yang mendera kami pun ikutan ngantri masuk. Tahun lalu nggak gini-gini banget, masuknya lancar, di scanning juga lancar aja.

view more post